Epistemologi Pendidikan

Posted by Counseling Students Association Minggu, 22 Agustus 2010 0 komentar

A. Latar Belakang
Berbicara masalah pendidikan, pada awalanya, islam mempunyai segala-galanya. Sejarah pernah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. pendidikan islam menjadi rujukan dari semua kalangan atas keberhasilannya dalam mencetak insan yang berpengetahuan, beretika dan mampu melakukan perubahan-perubahan besar dalam hidup ini. akan tetapi setelah abad ke-15 sampai saat ini, pendidikan islam telah mengalami kegagalan, kemerosotan dan tidak bisa mencetak manusia yang kreatif dan beretika. Salah satu contoh, banyak jebolan pesantren yang harus mendekam di penjara karena melakukan kejahatan. Itu artinya pendidikan islam tidak bisa atau kurang mampu memberikan solusi intelektual dan moral. Padahal salah satu tujuan pendidikan islam adalah memanuisiakan manusia dan mencetak manusia yang beretika.
Banyak factor yang menyebabkan pendidikan islam mengalami kemunduran yaitu: (1). Rendahnya sarana fisik, (2). Rendahnya kualitas guru, (3). Rendahnya kesejahteraan guru, (4). Rendahnya prestasi siswa, (5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, (6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, (7). Mahalnya biaya pendidikan dan lain sebagainya, agar pendidikan Islam ke depan dapat bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan, maka harus dilakukan reformasi pendidikan Islam.
Sebagai agen peradaban dan perubahan sosial, pendidikan islam berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Keberadaannya diharapkan mampu memberikan kontribusi dan perubahan positif yang berarti bagi perbaikan dan kemajuan peradaban umat islam, baik pada dataran intelektual teoritis maupun praktis. Pendidikan Islam bukan hanya sekedar proses transformasi nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari akses negatif globalisasi dan modernisasi. Tetapi yang paling urgen adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan lewat pendidikan Islam tersebut mampu berperan aktif sebagai generator yang memiliki pawer pembebas dari tekanan dan himpitan keterbelakangan sosial budaya, kebodohan, ekonomi dan kemiskinan di tengah mobilitas sosial yang begitu cepat.
Sebagai insan akademis yang akan berkiprah di dunia kependidikan, inilah saatnya melakukan terobosan-terobosan baru dalam mendesain pendidikan islam. Untuk mendesain pendidikan islam agar bisa menajwab tantangan zaman, maka harus di lakukan perombakan ulang, dengan catatan, hal-hal yang masih bisa dan relevan dilakukan pada saat ini di lanjutkan dan yang tidak dicarikan terobosan baru dengan mengkaji sisi ontologis, epistemologis dan aksiologisnya dari pendidikan islam. 

B. Rumusan Masalah
Agar tidak terjadi perluasan pembahasan, makalah ini hanya akan membahas masalah-masalah berikut:
1. Bagaimana Pendidikan islam ditinjau dari ontologi?
2. Bagaimana pendidikan islam ditinjau dari Epistemologi?
3. Bagaimana Pendidikan islam ditinjau dari Aksiologi?

LANDASAN TEORI

Dalam makalah ini, yang menjadi landasan teori adalah pengertian dari tiga pokok bahasan yaitu:
1. Ontologi merupakan penjelasan dari pertanyaan “apa”. Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan itu?
2. Epistomologi adalah cabang filasafat yang membahas persoalan berikut:
a. Apa sumber pengatahuan itu? Dari mana datangnya pengtahuan yang benar itu dan bagaimana cara mengatahuinya?
b. Apa sifat dasar pengatahuan itu?
c. Bagaimana kita dapat membedakan pengatahuan yang benar dan salah?
3. Akseologis adalah ilmu pengatahuan yang menyelidiki hakikat nilai. Aksiologi meliputi nilai-nilai, parameter bagi apa yang disebut dengan kebenaran, kaidah-kaidah apa yang harus kita perhatikan didalam menerapkan ilmu ke dalam praksis.
4. Pendidikan islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlaknya semua ajaran islam.
A. Pendidikan Islam ditinjau dari Ontologi
 Ontologi adalah bidang filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada, menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab-akibat . Pendidikan di lihat dari sisi ontologi adalah hakikat keberadaan pendidikan yang harus di ungkap guna memperoleh pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang bertugas dalam desain pendidikan. Tanpa mengetahui hakikat dari pendidikan itu, maka tidak akan di peroleh pendidikan yang mampu menjawab segala tantangan kehidupan utamanya yang berkaitan dengan esensi keberadaan manusia. Karena pada faktanya, proses pendidikan tidak bisa di pisahkan dengan manusia. 
 Kehidupan manusia ditentukan oleh asal mula dan tujuannya . Kaitannya dengan pendidikan adalah pendidikan harus bisa mengorek dan mengungkap asal-mula dan tujuan dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. pendidikan harus bisa memberikan pencerahan dan sekaligus gambaran tentang asal-mula dan tujuan manusia. Manusia yang masih belum bisa melihat asal-mula dan belum bisa merumuskan tujuannya, maka dengan pendidikan diharapkan mampu merumuskan dan sekaligus mengusahakan agar tujuan hidupnya tercapai.
 Pendidikan murni persoalan manusia yang objek dan subjeknya adalah manusia. Maka seharusnya dengan pendidikan manusia mampu mengembangkan potensinya. Potensi-potensi manusia sangat bermacm-macam, dari potensi kebaikan sampai dengan potensi yang akan menghancurkan dirinya. Yang menjadi pokok bahasan dalam filsafat pendidikan islam adalah potensi yang mana yang akan di kembangkan dalam pendidikan islam. Dan bagaimana pendidikan bisa menumbuh kembangkan potensi manusia.  
 Penyelenggaraan pendidikan Islam diperlukan pendirian mengenai pandangan manusia, masyarakat dan dunia. Pertanyaan-pertanyaan ontologis ini berkisar pada: apa saja potensi yang dimiliki manusia? Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith terdapat istilah fitrah, samakah potensi dengan fitrah tersebut? Potensi dan atau fitrah apa dan dimana yang perlu mendapat prioritas pengembangan dalam pendidikan Islam? Apakah potensi dan atau fitrah itu merupakan pembawaan (faktor dasar) yang tidak akan mengalami perubahan, ataukah ia dapat berkembang melalui lingkungan atau faktor ajar ?
 Lebih luas lagi apa hakekat budaya yang perlu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? Ataukah hanya ajaran dan nilai Islam sebagaimana terwujud dalam realitas sejarah umat Islam yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya? Inilah aspek ontologis yang perlu mendapat penegasan.
 Dengan pendekatan ontologis, diharapkan manusia bisa menyadari dengan mengetahui hakikat dirinya. Dari mana asal-usulnya dan mau kemana. Dengan menjawab kegelisahan itulah. Kita akan menemui titik puncak yang akan tidak bisa lagi di cari asal mulanya yakni Allah. Karena tidak mempunyai asal-mula, maka di sebut dengan causa prima. Sehingga kalau kita bisa mengetahui hakikat tentang diri kita maka kecerdasan spiritual akan tumbuh dalam diri kita.
 Secara ontologis, manusia dalam kaitannya dengan pendidikan menurut Suparlan Suhartono dalam bukunya filsafat pendidikan ada pada tiga tingkatan esensi; esensi abstrak pendidikan, esensi potensial pendidikan dan esensi konkret pendidikan. 
 Esensi abstrak pendidikan adalah hakikat kependidikan yang bersifat universal yang berlaku pada siapapun, dimanapun dan kapanpun manusia itu. Nilai universal dari pendidikan itu sendiri adalah pemanusian manusia. Dengan adanya orientasi itulah, maka pendidikan islam diharapkan mampu menumbuh-kembangkan potensi manusia secara berkesinambungan. Pada tingkatan inilah pendidikan cenderung menumbuh- kembangkan kecerdasan spiritual. 
 Esensi potensial pendidikan adalah esensi kebpendidikan yang di peruntukkan bagi manusia agar bisa berada dalam kepribadiaannya sebagai manusia, bukan makhluk yang lainnya . Kekreatifan dalam hal ini sangat di dukung oleh pendidikan. Maka sebagai aplikasi dari proses kemanusiaan. Maka pendidikan agar bisa membawa manusia ada pada potensinya, biasanya di kembangkanlah kecerdasan intelegensinya.
 Esensi konkret pendidikan adalah tingkatan pendidikan manusia yang akan mampu membuat setiap insan pendidikan berkesadaran utuh terhadap hakikat dirinya dan mampu membuat terobosan baru guna melangsungkan kehidupannya.

B. Pendidikan islam ditinjau dari Epistemologi
Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari obyek yang ingin dipikirkan. Azyumardi Azra mengungkapkan bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Sedangkan objek dari epistemologi adalah Segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Setelah itu tujuan dari epistemology adalah bukanlah hal utama menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu. Dalam hal ini proses untuk memperoleh pengetahuan.
Reformasi epistemologi Islam dalam dunia pendidikan sangat penting dilakukan demi menghasilkan pendidikan bermutu dan yang mencerdaskan, terlebih dalam krisis kekinian yang menyangkut pengetahuan dan pendidikan Islam saat ini. Krisis yang terjadi dalam dunia pengetahuan dan pendidikan Islam saat ini menyebabkan tradiri keilmuan menjadi beku dan mandek, sehingga pendidikan Islam sampai saat ini masih belum mampu menunjukkan perannya secara optimal.
Untuk mengatasi kelemahan dan problematika dalam pendidikan Islam tersebut harus dilakukan pembaruan-pembaruan (merekonstruksi pendidikan) secara komprehensif agar terwujud pendidikan Islam ideal yang mencerdaskan dan bermoral dengan cara merekonstruksi epistemologi pendidikan Islamnya. Epistemologi pendidikan Islam ini meliputi; pembahasan yang berkaitan dengan seluk-beluk pendidikan Islam, asal-usul, sumber, metode, sasaran pendidikan Islam. 
Pendekatan epistemologi membuka kesadaran dan pengertian siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan cara atau metode tertentu, sebab ia menyajikan proses pengetahuan di hadapan siswa dibandingkan hasilnya. Pendekatan epistemologi ini memberikan pemahaman dan keterampilan yang utuh dan tuntas. Seseorang yang mengetahui proses sesuatu kegiatan pasti mengetahui hasilnya. Sebaliknya, banyak yang mengetahui hasilnya tetapi tidak mengetahui prosesnya. Berbeda siswa yang hanya diberikan roti kemudian dia menikmatinya, dengan siswa yang diajak untuk membuat roti, kemudian menikmatinya. Tentunya pengetahuan siswa yang mengetahui proses pembuatan roti sampai menikmati itu lebih utuh, kokoh, dan berkesan. 
Karena epistemologi merupakan pendekatan yang berbasis proses, maka epistemologi melahirkan konsekuensi-konsekuensi logis, yaitu :
a. menghilangkan paradigma dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, ilmu tidak bebas nilai, tetapi bebas untuk dinilai, mengajarkan agama lewat bahasa ilmu pengetahuan, dan tidak mengajarkan sisi tradisional saja, tetapi sisi rasional.
b. Merubah pola pendidikan Islam indoktrinasi menjadi pola partisipatif antara guru dan murid. Pola ini memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, optimis, dinamis, inovatif, memberikan alasan-alasan yang logis, bahkan siswa dapat pula mengkritisi pendapat guru jika terdapat kesalahan. Intinya, pendekatan epistemologi ini menuntut pada guru dan siswa untuk sama-sama aktif dalam proses belajar mengajar. 
c. Merubah paradigma idiologis menjadi paradigma ilmiah yang berpijak pada wahyu Allah SWT. Sebab, paradigma idiologis ini -karena otoritasnya-dapat mengikat kebebasan tradisi ilmiah, kreatif, terbuka, dan dinamis .
d. Konsekuensi yang lain adalah merubah pendekatan dari pendekatan teoritis atau konseptual pada pendekatan kontekstual atau aplikatif.

C. Pendidikan islam ditinjau dari Aksiologi
Dalam bidang aksiologi, masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan ditinjau dari kesusilaan, sangat prinsip dalam pendidikan Islam. Hal ini terjadi karena kebaikan budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan Islam dan karenanya selalu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan Islam. Nabi Muhammad sendiri diutus untuk misi utama memperbaiki dan menyempurnakan kemuliaan dan kebaikan akhlak umat manusia.
Disamping itu pendidikan sebagai fenomena kehidupan sosial, kultural dan keagamaan, tidak dapat lepas dari sistem nilai tersebut. Dalam masalah etika yang mempelajari tentang hakekat keindahan, juga menjadi sasaran pendidikan Islam, karena keindahan merupakan kebutuhan manusia dan melekat pada setiap ciptaan Allah. Tuhan sendiri Maha Indah dan menyukai keindahan.
Disamping itu pendidikan Islam sebagai fenomena kehidupan sosial, kulturan dan seni tidak dapat lepas dari sistem nilai keindahan tersebut. Dalam mendidik ada unsur seni, terlihat dalam pengungkapan bahasa, tutur kata dan prilaku yang baik dan indah.
Unsur seni mendidik ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai. Tiap manusia memiliki nilai tertentu sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual, sosial dan bobot moral.
Itu sebabnya pendidikan dalam prakteknya adalah fakta empiris yang syarat nilai dan interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat manusiawi. Untuk mencapai tingkat manusiawi itulah pada intinya pendidikan bergerak menjadi agen pembebasan dari kebodohan untuk mewujutkan nilai peradaban manusiawi.
Intinya, dengan menggunakan pendekatan aksiologis, pendidikan islam di harapkan mampu memberikan nilai dalam kehidupan baik nilai moral ataupun nilai intelektual. Dengan begitu, para insane pendidikan islam akan mampu menjawab pertanyaan dasar dari aksiologi, yaitu “what for” untuk apa pendidikan islam dikembangkan dan harus memberikan nilai yang seperti apa pendidikan islam jika di aplikasikan dalam kehidupan ini.

A. Kesimpulan
a. Pendidikan di lihat dari sisi ontologi adalah hakikat keberadaan pendidikan yang harus di ungkap guna memperoleh pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang bertugas dalam desain pendidikan. Tanpa mengetahui hakikat dari pendidikan itu, maka tidak akan di peroleh pendidikan yang mampu menjawab segala tantangan kehidupan utamanya yang berkaitan dengan esensi keberadaan manusia.
b. Epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Sedangkan objek dari epistemologi adalah Segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Setelah itu tujuan dari epistemology adalah bukanlah hal utama menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu. Dalam hal ini proses untuk memperoleh pengetahuan.
c. Aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahsas masalah-masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan ditinjau dari kesusilaan, sangat prinsip dalam pendidikan Islam. Hal ini terjadi karena kebaikan budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan Islam dan karenanya selalu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan Islam.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzayyin. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Suhartono, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Kattsoff, Louis O. 2006. Pengantar Filsafat. Jogjakarta: Tiara Wacana Yogya.
Zainuddin, M. 2006. Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam. Jakarta: Lintas Pustaka.














0 Responses so far.

Poskan Komentar